Renungkanlah Indahnya Nikmat Kesempatan

Bismillahirrohmanirrohim

Renungkanlah indahnya nikmat kesempatan. Ada kata bijak yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Banyak orang yang menyesal begitu rupa saat kesempatan itu tidak digunakan dengan baik.  Yang ada tinggallah penyesalan.
Hidup kita memiliki tenggang waktu. Meski kita tidak mengetahui batas akhir kehidupan kita, tetapi saatnya pasti akan tiba. Entah itu karena usia, sakit-penyakit, ataupun kecelakaan. Bila saat itu tiba, tentu kita tidak mungkin bisa mengulang hidup kita lagi. Kenyataan inilah yang tiba-tiba menghantam Pdt. Wilhelmus Latumahina saat anak sulungnya mengalami kecelakaan lalu lintas pada tahun 2004. Peristiwa nahas yang merenggut nyawa anaknya itu membuatnya merenungkan arti hidup. Ia menyadari tidak selamanya kita muda, kuat, jaya, dan hidup. Dari perenungan itulah tercipta lagu sederhana yang sarat makna. “Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Hidup ini harus jadi berkat.”

Renungkanlah indahnya nikmat kesempatan

coba kita renungkan beberapa hal dibawah ini :

* Mengapa uang 20rb terasa besar dimasukkan ke kotak amal di mesjid, dan terasa sedik sekali ketika dibawa ke supermarket ..

* Mengapa kaki ini terasa berat saat dilangkah ke mesjid Meskipun jaraknya hanya 10 meter, tapi terasa ringan ketika dilangkahkan ke tempat konser yang jaraknya berpuluh” kilo meter ..

* Mengapa bertapa serunya nonton babak perpanjangan waktu pada pertandingan sepak bola, dan bertapa bosannya ketika imam jum’at berkhutbah terlalu lama ..

* Mengapa bertapa mudahnya merangkai kata untuk menggoda wanita dan bertapa sulitnya merangkai kata untuk memanjatkan do’a kepada Allah swt.

resapilah ….

     Berapa lama kita memiliki kesempatan hidup di dunia ini?  Selamanyakah?  Dalam mazmurnya Daud berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;  sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Menyadari bahwa kesempatan itu sangatlah terbatas, Daud pun berdoa,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12).  Jadi tugas kita menemukan kesempata dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri atau sesama sehingga raja Salomo menasihati,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10).